Setiap negara memiliki perasaan nasionalismenya masing-masing. Salah satu manifestasi perasaan nasionalisme tersebut adalah dengan mempertahankan integritas teritorial dari negara. Namun, tidak semua rakyat di wilayah negara tersebut senang dengan kebijakan pemerintah pusat. Apalagi kalau sudah menyangkut masalah mayoritas-minoritas dan hasil sumber daya alam. Masyarakat yang tidak puas akan menyerukan keinginannya untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri dengan berbagai cara.
Hak untuk menentukan nasih sendiri atau self determination, terutama dalam konteks kolonialisme memang diakui dalam hukum internasional seperti yang diputuskan Mahkamah Internasional dalam Pendapat Hukum Western Sahara (1975). Namun diluar konteks kolonialisme, seperti keinginan suatu wilayah untuk memisahkan diri, keadaan menjadi lebih rumit. Tidak ada definisi yang pasti mengenai pihak manakah yang berhak atas hak self determination tersebut. Pemerintah pusat ingin mempertahankan wilayah 'memberontak' tersebut karena alasan kebanggan dan integritas wilayah namun wilayah yang memberontak itu sendiri merasa lelah dengan kebijakan pemerintah pusat. Sering pemberontak ini disebut teroris oleh pemerintah pusat, namun menjadi pejuang kebebasan bagi rakyat yang merasa dibela oleh mereka.
Memang ada beberapa negara yang wilayahnya terpecah secara baik-baik seperti Ceko dan Slowakia serta Serbia dan Montenegro. Namun, banyak juga konflik terjadi seperti di Chechnya, Siprus, Western Sahara karena tidak adanya titik temu antara pihak pemberontak dan pemerintah pusat. Jalan tengah yang didapat biasanya dengan pemberian otonomi yang lebih besar kepada daerah yang tidak puas tersebut. Walaupun terkadang opsi otonomi ini juga tidak memberikan hasil apabila kelompok yang memberontak ngotot untuk merdeka.
Satu hal yang menarik yang saya temukan di lomba bulan kemarin adalah peranan media sangat penting untuk melihat duduk masalah yang ada. Saat saya berbicara dengan tim Serbia, salah satu dari mereka bercerita mengenai konflik Balkan dengan sudut pandang yang berbeda dari apa yang ada di media konvensional. Dia berkata bahwa tidak semua orang Serbia setuju dengan kebijakan Slobodan Milosevic dan dia juga berkata bahwa konflik di Balkan bukanlah konflik agama melainkan etnis. Kebetulan saja sebagian besar orang Serbia adalah Orthodox, sebagian besar orang Kroasia adalah Katolik, namun di Bosnia sendiri terdiri dari tiga kelompok etnis yaitu Bosniaks, Serbian, dan Kroasia. Saat mendengar cerita dia, saya seperti mendengarkan cerita orang Indonesia apabila ditanya mengenai konflik Timor-Timur. Apa yang ditulis oleh media internasional akan berbeda dengan apa yang dipersepsikan oleh orang yang berada di tempat kejadian.
